Sleman, 17 April 2026 — Jemput Suara kembali menyelenggarakan forum diskusi publik JS Talk Episode #05 bertema “Perempuan di Garis Depan Aksi Iklim” pada Kamis (17/04) secara daring melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai momentum untuk memperingati Hari Kartini 2026 pada 21 April.
Diskusi daring yang berlangsung pukul 19.00–20.00 WIB ini mempertemukan perempuan-perempuan hebat Indonesia, di antaranya Arviana Maulina (Member of Youth Advisory Board Teens Go Green Indonesia), Antonia Elena Listya Araminta (Duta Lingkungan Indonesia 2026), serta Debora Dian Utami (Direktur YAKKUM Emergency Unit). Melalui forum ini, para narasumber membedah bagaimana aspek gender mempengaruhi kerentanan serta kontribusi perempuan dalam menghadapi krisis iklim di Indonesia.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di Indonesia. Data menunjukkan bahwa lebih dari 90% bencana pada periode 2022–2023 didominasi oleh kejadian tersebut, sementara sekitar 29% penduduk Indonesia tinggal di wilayah rawan bencana. Diskusi ini menyoroti fakta bahwa krisis iklim tidaklah netral gender karena perempuan kerap kali berada pada posisi yang lebih rentan akibat keterbatasan akses terhadap sumber daya, teknologi, dan pendidikan.
Arfiana Maulina membuka sesi diskusi dengan menyoroti bahwa perempuan merupakan kelompok yang paling terdampak dan rentan terhadap krisis iklim dan bencana. Ia menegaskan bahwa isu gender tidak dapat dipisahkan dari pembahasan krisis iklim. “Bencana adalah bagian dari iklim, tapi gender juga bagian dari iklim. Jadi kita berbicara tentang climate intersection,” ujarnya.
Dalam konteks ini, Arfiana menekankan bahwa kerentanan perempuan turut dipengaruhi oleh faktor biologis yang kerap luput dari perhatian, termasuk kebutuhan sanitasi dalam situasi darurat. “Perempuan mengalami menstruasi dan membutuhkan sanitary pad. Kalau ada bencana alam, kebutuhan akan sanitary pad menjadi lebih mendesak dibanding yang lain,” tambahnya. Selain itu, ia menegaskan perlunya evaluasi terhadap indikator-indikator penilaian lingkungan yang selama ini berfokus pada emisi dan deforestasi, namun belum mencakup indikator berbasis gender.
Sementara itu, Antonia Elena Listya Araminta menekankan pentingnya representasi perempuan dalam gerakan lingkungan. Ia berbagi pengalaman bahwa keterlibatan perempuan di tingkat komunitas, seperti ibu-ibu PKK dalam menanam tanaman obat keluarga dan pengelolaan biopori, membuktikan besarnya peran perempuan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. “Perempuan itu sangat kreatif, sangat besar idenya, sangat besar perannya, asal kita semua mau bergerak bersama-sama,” ujarnya. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh audiens untuk bergerak secara kolektif dalam menuntut perubahan dan menciptakan dampak nyata, khususnya melalui aksi-aksi lingkungan.
Akhirnya, Debora Dian Utami menjelaskan sejumlah risiko sosial yang dialami perempuan dalam situasi bencana, mulai dari kelelahan emosional yang berdampak pada kondisi fisik dan psikis akibat paparan bencana yang berulang, beban ganda yang harus ditanggung perempuan, hingga risiko kekerasan berbasis gender yang dapat meningkat hingga 14 kali lipat. Ia juga menyoroti persoalan stigma dan alienasi yang menjadi hambatan struktural bagi perempuan untuk berpartisipasi secara aktif. “Perempuan yang pasif akhirnya minim kesempatan untuk terlibat dalam forum-forum. Tapi kalau terlalu aktif menyuarakan aspirasi justru berujung pada intimidasi. Kita dapat melihat bagaimana perempuan pembela HAM banyak mengalami intimidasi,” ungkapnya.
Diskusi ini menyimpulkan bahwa peran strategis perempuan dalam aksi iklim baik di tingkat komunitas maupun dalam membangun ketahanan masyarakat walaupun masih terhambat oleh tantangan struktural dan ketimpangan gender. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara masyarakat dan pembuat kebijakan dalam menciptakan ruang partisipasi yang aman bagi perempuan, agar aspirasi publik dapat tersampaikan secara substantif.
Melalui diskusi ini, Jemput Suara menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar korban dari krisis iklim, melainkan aktor utama yang berada di garis depan perubahan. Jemput Suara berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang diskusi publik yang inklusif sebagai upaya menjembatani suara perempuan di akar rumput dengan para pengambil kebijakan, demi terwujudnya aksi iklim yang berkeadilan gender di Indonesia.
Jemput Suara adalah platform pemuda independen dan non-profit yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945. Kami berfokus pada penyerapan, pengumpulan, dan pemaduan suara pemuda Indonesia, sebagai upaya memperkuat partisipasi generasi muda dalam kebijakan publik yang inklusif. Melalui berbagai program, Jemput Suara menciptakan ruang belajar kritis yang menjembatani dialog antara pemerintah, partai politik, pemuda, dan masyarakat sipil.
Untuk informasi lebih lanjut,
hubungi: 0823-2205-7643
Jemput Suara © 2025
We use cookies to improve your experience on our site. By using our site, you consent to cookies.
Manage your cookie preferences below:
Essential cookies enable basic functions and are necessary for the proper function of the website.
Statistics cookies collect information anonymously. This information helps us understand how visitors use our website.
Marketing cookies are used to follow visitors to websites. The intention is to show ads that are relevant and engaging to the individual user.