Yogyakarta, 27 September 2025 – Jemput Suara resmi menggelar diskusi perdana bertajuk Jemput Suara Talks (JS Talks) #1 dengan tema “80 Tahun Merdeka, Saatnya Membebaskan Pendidikan dari Ketimpangan” di Sirkel de Koffie, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Forum ini menghadirkan Bapak Wasidi, S.E., M.Si. (Kepala Bidang Pembinaan SMA Disdikpora DIY) dan Muhammad Yasir Abdad (Direktur Public Policy Nexus Center) serta dihadiri oleh pemuda-pemudi dari berbagai daerah di DIY.
Diskusi mengungkap paradoks pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Meski dikenal sebagai Kota Pelajar, data menunjukkan masih terdapat anak putus sekolah di semua jenjang (SD 0,10%, SMP 0,11%, SMA 0,25%). Lebih dari 60% warga DIY hanya menamatkan pendidikan dasar atau menengah, sementara hanya sekitar 15% anak asli DIY melanjutkan kuliah. Keterbatasan ekonomi, minimnya akses beasiswa, dan ketimpangan fasilitas semakin memperparah masalah ini. Di Bantul, misalnya, sekitar 2.000 anak usia sekolah tercatat tidak bersekolah, sementara rasio komputer di sekolah masih 1:7.
Kesenjangan ini juga mencerminkan tantangan nasional. Hasil PISA 2022 menempatkan Indonesia di posisi rendah untuk matematika, membaca, dan sains, menunjukkan lemahnya keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Tanpa pembenahan serius, ketimpangan pendidikan berpotensi mengurangi peluang Indonesia memanfaatkan bonus demografi 2035 dan justru memperlebar kesenjangan sosial.
Dalam diskusi, perwakilan Disdikpora DIY menegaskan bahwa program seperti Program Indonesia Pintar (PIP), beasiswa afirmasi, dan peningkatan mutu guru sudah berjalan. Namun, keterbatasan anggaran, rendahnya kesadaran orang tua, serta ketidakmerataan kualitas sekolah masih menjadi hambatan. Sementara itu, perspektif masyarakat sipil menekankan pentingnya pemberdayaan komunitas lokal, integrasi pendidikan formal dan nonformal, serta kolaborasi lintas sektor agar pendidikan menjadi lebih inklusif.
Forum ini menyepakati sejumlah rekomendasi, di antaranya perlunya pemerataan akses dan beasiswa hingga jenjang perguruan tinggi terutama bagi daerah dengan IPM rendah seperti Gunungkidul; peningkatan mutu pendidikan melalui pemerataan kualitas guru serta penguatan literasi, numerasi, dan keterampilan berpikir kritis; kolaborasi lintas sektor dengan komunitas literasi, lembaga zakat, perguruan tinggi, dan sektor swasta; integrasi antara pendidikan formal dan nonformal agar anak tetap kompetitif; serta edukasi bagi orang tua untuk mendorong perubahan mindset tentang pentingnya pendidikan jangka panjang.
“Pendidikan tidak cukup hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Butuh peran orang tua, komunitas, dan masyarakat sipil. Dengan kolaborasi, kita bisa mematahkan rantai ketimpangan,” ungkap Muhammad Yasir Abdad.
Sementara itu, Bapak Wasidi menekankan pentingnya mengaitkan kebijakan pendidikan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat: “Kesadaran orang tua akan tumbuh seiring meningkatnya taraf ekonomi. Karena itu, perlu kolaborasi lintas bidang untuk memperkuat ekosistem pendidikan.”
Jemput Suara melalui JS Talks berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang diskusi kritis dan kolaboratif. Forum ini menjadi langkah awal untuk memastikan pendidikan yang inklusif dan merata, agar bonus demografi dapat menjadi kekuatan menuju visi Indonesia Emas 2045.
Jemput Suara adalah platform pemuda independen dan non-profit yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945. Kami berfokus pada penyerapan, pengumpulan, dan pemaduan suara pemuda Indonesia, sebagai upaya memperkuat partisipasi generasi muda dalam kebijakan publik yang inklusif. Melalui berbagai program, Jemput Suara menciptakan ruang belajar kritis yang menjembatani dialog antara pemerintah, partai politik, pemuda, dan masyarakat sipil.
Untuk informasi lebih lanjut,
hubungi: 0823-2205-7643
Jemput Suara © 2025
We use cookies to improve your experience on our site. By using our site, you consent to cookies.
Manage your cookie preferences below:
Essential cookies enable basic functions and are necessary for the proper function of the website.
Statistics cookies collect information anonymously. This information helps us understand how visitors use our website.
Marketing cookies are used to follow visitors to websites. The intention is to show ads that are relevant and engaging to the individual user.