Nasib Pejalan Kaki yang Tak Istimewa di Daerah Istimewa

Jogja adalah daerah yang istimewa di setiap sudutnya, tetapi pejalan kaki masih harus berjuang untuk “keistimewaan” itu.

Copyright: Harian Jogja

Jalan kaki itu udah jadi aktivitas yang melekat pada seseorang sejak zaman dahulu karena jadi cara yang simpel dan hemat untuk bepergian. Namun, jalan kaki di Indonesia jarang dilakukan sehingga bikin negara kita jadi salah satu negara yang malas berjalan kaki dengan rata-rata paling rendah yaitu 3.513 langkah per hari. Sebenarnya, kenapa sih masyarakat Indonesia malas jalan kaki? Pasti ada permasalahan yang perlu digali lebih lanjut. Apalagi di Yogyakarta, permasalahan ini punya satu faktor lagi nih, yaitu keberadaan infrastruktur pendukung para pejalan kaki. Daerah ini memang istimewa, tapi sayang banget karena pejalan kaki nya belum mendapatkan keistimewaan yang sama. 

Tahukah Kamu

Wilayah Jogja itu istimewa. Tetapi, sayang sekali para pejalan kakinya belum menikmati keistimewaan itu. Daerah istimewa tapi memberikan kesan buruk dengan adanya trotoar yang tidak berfungsi secara optimal. Padahal jalan kaki itu sangat baik buat meningkatkan kesehatan tubuh dan lingkungan sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca, polusi, dan kecelakaan lalu lintas. Penting juga agar para pemangku kebijakan di Yogyakarta untuk membuat regulasi yang tegas dalam membangun trotoar sebagaimana mestinya seperti dengan memberikan sanksi bagi pelaku yang merusak trotoar dan infrastruktur  lainnya, dan menggalakkan kampanye pentingnya jalan kaki untuk menjaga kesehatan. Dalam Pasal 34 ayat (4) PP Jalan dijelaskan bahwa trotoar hanya diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan kaki. Oleh karena itu, perbaikan akses bagi para pejalan kaki merupakan salah satu bentuk inklusivitas yang menjadi hak semua orang sehingga kenyamanan pejalan kaki bukan lagi jadi keistimewaan tetapi hak dasar yang wajib ada sebagai wujud memanusiakan manusia.