Realita Jogja: IPM Tinggi, Peluang Kerja Tipis, Lulusan Pergi

Sebutan kota pelajar di Jogja bukan sekadar branding. IPM Jogja termasuk yang tertinggi di Indonesia. Tapi apakah ini sudah berbuah kesempatan kerja dan kesejahteraan bagi warganya?

Copyright: ugm.ac.id

Daerah Istimewa Yogyakarta memang magnet pelajar dari seluruh Indonesia, berkat banyaknya kampus negeri dan swasta serta biaya hidup yang relatif terjangkau. Tak heran, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kota Yogyakarta masuk kategori sangat tinggi. Pada tahun 2023, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Yogyakarta tercatat sebesar 88,61, yang merupakan yang tertinggi secara nasional. Namun, apakah kehadiran ribuan mahasiswa ini sudah membawa manfaat nyata bagi pembangunan dan kesempatan kerja di Jogja?

Tahukah Kamu?

Fenomena ini menunjukkan ketidakseimbangan antara kualitas SDM dan daya serap ekonomi lokal. Banyak lulusan berbakat justru tidak menemukan ruang untuk mengembangkan potensi di Jogja, karena lapangan kerja yang bergaji rendah, biaya hidup yang tinggi, serta harga properti yang makin tak terjangkau. Kurangnya sinergi antara institusi pendidikan dan sektor industri lokal, serta terbatasnya lapangan kerja berbasis inovasi, membuat banyak pemuda meninggalkan kota ini setelah lulus.

Jika tidak ada strategi konkret untuk mengintegrasikan lulusan dengan pembangunan daerah, Jogja akan terus menjadi etalase pendidikan tanpa dampak sosial-ekonomi jangka panjang yang signifikan. IPM tinggi bukan hanya angka—harus diikuti dengan kesempatan kerja dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh warga.